SINTA 4 dan SINTA 5: Tulang Punggung yang Terlupakan dalam Ekosistem Publikasi Ilmiah Indonesia
Gonusantara.id - Ilustrasi: Fathurrahmad / AI-Generated (ChatGPT)
Oleh: Fathurrahmad, S.Kom., M.M.
Dosen STMIK Indonesia Banda Aceh | Editor Jurnal Ilmiah
Nasional | Pemerhati Manajemen Pendidikan Tinggi
Ada sebuah paradoks yang jarang dibicarakan dalam diskusi
publikasi ilmiah Indonesia. Di satu sisi, kita terus mendorong dosen dan
peneliti untuk menerbitkan artikel di jurnal bereputasi tinggi — SINTA 1, SINTA
2, bahkan jurnal terindeks Scopus dan Web of Science. Di sisi lain, data
menunjukkan bahwa mayoritas jurnal nasional justru berada pada level yang
selama ini sering dipandang sebelah mata: SINTA 4 dan SINTA 5.
Pertanyaannya bukan sekadar mengapa banyak jurnal berada di
level menengah. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita sudah cukup
serius memperlakukan SINTA 4 dan SINTA 5 sebagai bagian penting dari
infrastruktur pengetahuan nasional?
Data yang Berbicara
Data SINTA Kemdiktisaintek per Mei 2026 sangat jelas. Dari
total 15.456 jurnal yang terdaftar, hanya 267 jurnal atau 1,73 persen yang
berada di peringkat SINTA 1. SINTA 2 menampung 1.513 jurnal atau 9,79 persen.
Sementara SINTA 4 dan SINTA 5 — jika digabungkan — menampung 10.580 jurnal,
atau 68,45 persen dari seluruh jurnal nasional yang terakreditasi.
Ini bukan angka kecil. Ini adalah mayoritas mutlak.
GARUDA per Mei 2026 mencatat 29.376 jurnal dengan lebih dari
5,22 juta artikel. Namun dari jumlah itu, hanya 15.456 yang masuk sistem SINTA
— artinya hampir separuh jurnal dalam GARUDA belum memiliki akreditasi sama
sekali. Adapun data ARJUNA periode 2022–2026 menunjukkan bahwa dari 45.119
total usulan akreditasi, lebih dari 55 persen memiliki hasil evaluasi diri di
bawah ambang batas 70. Yang lebih mengejutkan: 98,80 persen dari seluruh usulan
itu adalah re-akreditasi — bukan pengajuan baru, melainkan perjuangan
mempertahankan status yang sudah ada.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik administratif.
Mereka adalah potret nyata dari ekosistem pengetahuan Indonesia: luas, beragam,
dan penuh dengan institusi yang sedang berjuang keras untuk tumbuh.
Mengapa SINTA 4 dan SINTA 5 Tidak Bisa Diabaikan
Pertama, SINTA 4 dan SINTA 5 adalah ruang akademik yang
realistis bagi mayoritas dosen Indonesia. Tidak semua dosen bernaung di
universitas riset besar dengan fasilitas lengkap dan dana penelitian yang
memadai. Bagi dosen di perguruan tinggi swasta kecil dan kampus daerah — yang
jumlahnya jauh lebih besar dari universitas negeri besar — jurnal di level ini
adalah ruang yang bermartabat untuk mendokumentasikan hasil pemikiran mereka.
Kedua, SINTA 4 dan SINTA 5 adalah jembatan bagi mahasiswa
pascasarjana. Tidak semua mahasiswa S2 memiliki kemampuan bahasa Inggris yang
cukup untuk jurnal internasional, atau waktu untuk menunggu proses review
enam hingga dua belas bulan. Jurnal di level ini menjadi ruang transisi yang
penting — tempat mahasiswa belajar menulis ilmiah secara serius, menerima umpan
balik reviewer, dan membangun rekam jejak publikasi pertama mereka.
Ketiga, SINTA 4 dan SINTA 5 adalah inkubator bagi jurnal
yang sedang tumbuh. Banyak jurnal yang kini berada di SINTA 2 atau SINTA 3
pernah memulai perjalanannya dari level ini. Meremehkan SINTA 4 dan SINTA 5
sama artinya dengan meremehkan proses pertumbuhan itu sendiri — dan memotong
tangga yang dibutuhkan oleh jurnal-jurnal muda yang sedang membangun kapasitas
editorialnya.
Keempat, dan ini yang sering luput dari perhatian: SINTA 4
dan SINTA 5 adalah penyimpan kearifan lokal dan riset kontekstual yang tidak
bisa digantikan oleh jurnal internasional mana pun. Riset tentang masyarakat
adat, kebijakan daerah, kearifan lokal, dan isu-isu spesifik Indonesia
seringkali tidak relevan untuk jurnal internasional — tetapi sangat penting
bagi pembangunan nasional.
Tantangan yang Tidak Bisa Ditutup-tutupi
Mengakui pentingnya SINTA 4 dan SINTA 5 bukan berarti
menutup mata terhadap tantangan nyata yang mereka hadapi.
Stigma akademik masih kuat. Tekanan tidak tertulis — dari
sistem PAK, dari pimpinan institusi, dari budaya akademik yang terbentuk selama
bertahun-tahun — menciptakan lingkungan di mana kontribusi di jurnal SINTA 4
dan SINTA 5 dianggap "tidak cukup", bahkan ketika kualitas prosesnya
setara dengan jurnal yang lebih tinggi peringkatnya.
Keterbatasan sumber daya editorial juga menjadi hambatan
struktural. Tim yang kecil, anggaran yang terbatas, dan ketergantungan pada
sukarela reviewer berdampak langsung pada konsistensi jadwal terbit. Ini
bukan masalah niat — ini adalah masalah kapasitas yang membutuhkan intervensi
kebijakan, bukan sekadar kritik.
Beban re-akreditasi yang berat pun menjadi ironi tersendiri.
Energi editorial yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kualitas konten
justru banyak tersedot oleh proses administratif yang berulang. Data ARJUNA
membuktikan ini: 98,80 persen usulan adalah re-akreditasi, bukan pengembangan
baru.
Di tengah semua itu, ancaman jurnal predator terus
mengintai. Mereka menawarkan publikasi cepat tanpa peer review serius —
dan dalam tekanan sistem PAK yang tinggi, tawaran itu terasa menggiurkan bagi
sebagian akademisi yang terdesak.
Jurnal-jurnal yang Membuktikan Potensi Itu Nyata
Salah satu argumen paling kuat untuk membela SINTA 4 dan
SINTA 5 adalah data sitasi jurnal-jurnal yang ada di dalamnya. Data berikut
bersumber langsung dari portal SINTA Kemdiktisaintek, diakses pada 4 Juni 2026,
dengan filter akreditasi berlaku mulai tahun 2026.
Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi
Di bidang ini, sejumlah jurnal menunjukkan dampak yang jauh
melampaui ekspektasi peringkatnya. Jurnal JTIK dari Lembaga KITA
mencatatkan H5-index 35 dengan total sitasi 5.158. Jurnal Teknik Komputer
AMIK BSI tidak kalah dengan H5-index 29 dan total sitasi 5.582. Dari Aceh, Jurnal
EMT KITA dari Lembaga Komunitas Informasi Teknologi Aceh menunjukkan
konsistensi dengan impact 4,18 dan H5-index 31. Adapun SISKOM
dari STMIK Indonesia Banda Aceh, meski masih muda, telah mencatatkan H-index 17
— tanda awal yang menjanjikan.
|
Nama Jurnal |
Penerbit |
Akred. |
Impact |
H5 |
Sitasi 5yr |
Total Sitasi |
|
Universitas Citra Bangsa |
S4 |
5,44 |
19 |
2.057 |
2.150 |
|
|
AMIK BSI |
S4 |
3,85 |
29 |
4.214 |
5.582 |
|
|
Lembaga KITA |
S4 |
3,50 |
35 |
4.016 |
5.158 |
|
|
STMIK AKAKOM Yogyakarta |
S4 |
2,34 |
18 |
1.379 |
1.570 |
|
|
STMIK Palangka Raya |
S4 |
2,28 |
18 |
1.193 |
1.339 |
|
|
Politeknik Harapan Bersama |
S4 |
0,94 |
13 |
1.344 |
1.473 |
|
|
IAI Pagaralam |
S4 |
0,02 |
15 |
1.099 |
1.314 |
|
|
STMIK Indonesia Banda Aceh |
S5 |
0,07 |
17 |
574 |
574 |
|
|
AMIK Indonesia |
S5 |
0,45 |
12 |
18 |
2.687 |
Sumber: sinta.kemdiktisaintek.go.id, diakses 4 Juni 2026.
Akreditasi berlaku sampaih lebih tahun 2026.
Pendidikan dan Ilmu Kependidikan
Jurnal Education and Development dari Institut
Pendidikan Tapanuli Selatan menjadi yang paling menonjol dengan H5-index 56 dan
total sitasi 17.196 — angka yang melampaui banyak jurnal di peringkat lebih
tinggi. Perspektif Ilmu Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta
mencatatkan impact 52,29, didukung oleh otoritas institusional yang
kuat. ADI Journal on Recent Innovation (AJRI) dari Asosiasi Dosen
Indonesia hadir dengan impact 28,00 dan H5-index 31 dengan cakupan
multidisiplin yang mencakup pendidikan, sains, teknik, dan agama.
|
Nama Jurnal |
Penerbit |
Akred. |
Impact |
H5 |
Sitasi 5yr |
Total Sitasi |
|
Universitas Negeri Jakarta |
S4 |
52,29 |
15 |
1.240 |
1.262 |
|
|
Asosiasi Dosen Indonesia |
S4 |
28,00 |
31 |
3.170 |
3.202 |
|
|
Universitas Hamzanwadi |
S4 |
11,29 |
16 |
1.176 |
1.283 |
|
|
Univ. Muhammadiyah Palangkaraya |
S4 |
1,89 |
23 |
2.141 |
2.280 |
|
|
Institut Pendidikan Tapanuli Selatan |
S4 |
1,79 |
56 |
16.525 |
17.196 |
|
|
Yayasan Kawanad |
S5 |
6,00 |
2 |
1.100 |
1.199 |
Sumber: sinta.kemdiktisaintek.go.id, diakses 4 Juni 2026.
Akreditasi berlaku sampaih lebih tahun 2026.
Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi
Bidang ini menyimpan salah satu temuan paling mengejutkan
dalam seluruh pemetaan ini. The Accounting Journal of Binaniaga
mencatatkan impact 10.975,00 dengan total sitasi 11.706 — angka yang
mencerminkan konsentrasi sitasi yang luar biasa pada artikel-artikel
unggulannya. Jurnal Mirai Management dari STIE Amkop Makassar unggul
dalam H5-index (41) dan total sitasi 7.252. JEMSI dari Lembaga KITA
mencatatkan H5-index 34 dengan sitasi lima tahun hampir 5.000.
|
Nama Jurnal |
Penerbit |
Akred. |
Impact |
H5 |
Sitasi 5yr |
Total Sitasi |
|
Universitas Binaniaga Indonesia |
S4 |
10.975,00 |
14 |
2.897 |
11.706 |
|
|
Lembaga KITA Aceh |
S4 |
4,18 |
31 |
3.328 |
4.384 |
|
|
UIN Sultan Syarif Kasim Riau |
S4 |
41,67 |
23 |
1.478 |
1.539 |
|
|
STIE Amkop Makassar |
S4 |
16,60 |
41 |
6.735 |
7.252 |
|
|
ITB Nobel Indonesia |
S4 |
15,73 |
17 |
1.177 |
1.365 |
|
|
Universitas Medan Area |
S4 |
11,42 |
25 |
2.198 |
2.227 |
|
|
Lembaga KITA Aceh |
S4 |
8,78 |
34 |
4.978 |
5.101 |
|
|
Universitas Pakuan & IAI |
S5 |
116,00 |
23 |
1.942 |
2.446 |
Sumber: sinta.kemdiktisaintek.go.id, diakses 4 Juni 2026.
Akreditasi berlaku sampaih lebih tahun 2026.
Hukum dan Syariah
Bidang hukum di level SINTA 4 dan SINTA 5 masih relatif
terbatas jumlahnya dibandingkan bidang lain — yang justru membuka peluang lebih
besar bagi peneliti untuk menempatkan artikel di jurnal yang lebih mudah
diakses dengan persaingan yang lebih terukur. Al-'Adalah dari Institut
Pesantren KH Abdul Chalim mencatatkan impact 199,00 — tertinggi di
antara jurnal hukum SINTA 4 yang terdata, dengan fokus pada hukum Islam dan
syariah yang sangat relevan bagi peneliti di perguruan tinggi Islam.
|
Nama Jurnal |
Penerbit |
Akred. |
Impact |
H5 |
Sitasi 5yr |
Total Sitasi |
|
Institut Pesantren KH Abdul Chalim |
S4 |
199,00 |
11 |
1.459 |
1.663 |
|
|
Universitas Islam Bandung |
S4 |
35,00 |
13 |
590 |
797 |
Sumber: sinta.kemdiktisaintek.go.id, diakses 4 Juni 2026.
Akreditasi berlaku sampaih lebih tahun 2026.
Kesehatan, Sains, dan Farmasi
Temuan paling dramatis dalam seluruh pemetaan ini ada di
bidang ini. Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry dari Fakultas
Farmasi Universitas Mulawarman mencatatkan H5-index 79, sitasi lima tahun
42.435, dan total sitasi 60.583. Angka-angka ini bukan hanya luar biasa untuk
ukuran jurnal SINTA 4 — mereka bahkan melampaui banyak jurnal SINTA 2 dan SINTA
3. Jurnal ini adalah bukti paling telak bahwa peringkat SINTA tidak selalu
mencerminkan dampak ilmiah yang sesungguhnya.
|
Nama Jurnal |
Penerbit |
Akred. |
Impact |
H5 |
Sitasi 5yr |
Total Sitasi |
|
Fakultas Farmasi Univ. Mulawarman |
S4 |
17,93 |
79 |
42.435 |
60.583 |
|
|
Univ. Muhammadiyah Palangkaraya |
S4 |
1,89 |
23 |
2.141 |
2.280 |
|
|
Universitas Djuanda Bogor |
S4 |
1,86 |
14 |
871 |
1.079 |
Sumber: sinta.kemdiktisaintek.go.id, diakses 4 Juni 2026.
Akreditasi berlaku sampaih lebih tahun 2026.
Panduan Memilih Jurnal yang Tepat
Bagi peneliti dan dosen yang ingin mempublikasikan karya di
jurnal SINTA 4 atau SINTA 5, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum
memutuskan.
Pertama, periksa konsistensi penerbitan. Cek arsip jurnal:
apakah ada volume yang terbit terlambat bertahun-tahun, atau bahkan tidak
terbit sama sekali? Jurnal yang tidak konsisten dalam jadwal terbit adalah
tanda bahwa manajemen editorialnya bermasalah.
Kedua, verifikasi DOI dan pengindeksan. Setiap artikel yang
diterbitkan seharusnya memiliki DOI yang terdaftar di Crossref dan dapat
ditemukan di Google Scholar. Jika tidak, artikel Anda akan sulit ditemukan dan
disitasi oleh peneliti lain.
Ketiga, baca kebijakan editorial dengan seksama. Jurnal yang
baik memiliki pernyataan etika publikasi yang jelas, informasi editorial
board yang dapat diverifikasi, dan — di era sekarang — kebijakan eksplisit
tentang penggunaan kecerdasan buatan dalam penulisan.
Keempat, waspadai tanda-tanda jurnal predator: janji
publikasi dalam hitungan hari tanpa proses review yang jelas, biaya APC
yang sangat tinggi tanpa justifikasi, atau editorial board yang tidak
bisa diverifikasi identitasnya.
Rekomendasi
Kepada perguruan tinggi: hentikan stigmatisasi jurnal SINTA
4 dan SINTA 5. Data menunjukkan bahwa sejumlah jurnal di level ini memiliki
dampak ilmiah yang jauh melampaui ekspektasi peringkatnya. Akui kontribusinya
dalam sistem penilaian kinerja dosen secara proporsional.
Kepada pengelola jurnal: investasikan pada tata kelola
editorial yang sistematis. Konsistensi penerbitan, etika publikasi yang
terdokumentasi, pengembangan reviewer, dan pemanfaatan teknologi OJS
secara optimal adalah fondasi yang tidak bisa diabaikan.
Kepada Kemdiktisaintek: kembangkan program pendampingan
khusus untuk jurnal SINTA 4 dan SINTA 5 yang menunjukkan potensi pertumbuhan.
Pertimbangkan juga untuk menyederhanakan beban administratif re-akreditasi yang
saat ini menyita energi editorial yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan
kualitas konten.
Kepada peneliti dan penulis: pilih jurnal berdasarkan
kesesuaian bidang dan mutu proses editorial — bukan semata-mata peringkat.
Gunakan data impact dan H5-index sebagai panduan, bukan sebagai
satu-satunya penentu.
Penutup
Data tidak berbohong. Dari 15.456 jurnal dalam sistem SINTA
per Mei 2026, sebanyak 68,45 persen berada pada peringkat SINTA 4 dan SINTA 5.
Dan di antara ribuan jurnal itu, tersimpan permata-permata yang sering luput
dari perhatian: jurnal farmasi dengan 60.583 sitasi, jurnal pendidikan dengan
H5-index 56, jurnal akuntansi dengan impact hampir sebelas ribu.
Ini bukan cerminan kelemahan ekosistem jurnal nasional. Ini
adalah cerminan realitas akademik Indonesia: beragam, tersebar, dan terus
berkembang.
Sudah saatnya kita berhenti memandang SINTA 4 dan SINTA 5
sebagai ruang pinggiran. Mereka adalah tulang punggung ekosistem publikasi
ilmiah nasional yang menopang ratusan ribu dosen, mahasiswa, dan peneliti
Indonesia setiap tahunnya. Dan tulang punggung yang sehat adalah prasyarat bagi
tubuh akademik yang tegak.
Fathurrahmad, S.Kom., M.M. adalah Dosen Tetap STMIK
Indonesia Banda Aceh, Editor Jurnal Ilmiah Nasional, dan Pemerhati Manajemen
Pendidikan Tinggi. Pandangan dalam artikel ini merupakan pendapat pribadi
berdasarkan analisis data dan pengamatan lapangan penulis.
Sumber:
- SINTA
Kemdiktisaintek — sinta.kemdiktisaintek.go.id, diakses 4 Juni 2026 (data
akreditasi berlaku mulai tahun 2026)
- GARUDA
Kemdiktisaintek (Mei 2026)
- ARJUNA
Kemdiktisaintek, Rekap Usulan Akreditasi 2022–2026
- Google
Scholar Metrics (Juni 2026)
- Statistik
ISSN Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2026)